Minggu, 29 Januari 2012

Pingkuk

Jangan marah!" begitu sabda
Rasulullah SAW dalam sebuah
hadis yang diriwayat kan Imam
Bukhari. Dalam kehidupan sehari-hari,
setiap orang bisa saja marah.
Marah adalah sesuatu yang
manusiawi. Lalu apa makna
hadis Nabi SAW itu? Ibnu Hajar
dalam Fathul Bani menjelaskan makna hadis itu: "AlKhath thabi
berkata, "Arti perkataan Rasu
lullah SAW 'jangan marah'
adalah menjauhi sebab-sebab
marah dan hendaknya
menjauhi sesuatu yang meng arah kepadanya." Menurut 'Al-
Khaththabi, marah itu tidaklah
terlarang, karena itu adalah
tabiat yang tak akan hilang
dalam diri manusia. Nah, apa yang harus dilakukan
seorang Muslim ketika marah?
Syekh Abdul Azis bin Fathi as-
Sayyid Nada dalam kitab
Mausuu'atul Aadaab alIslamiyah,
mengungkapkan hendak nya seorang Muslim memperhatikan
adab-abad yang berkaitan
dengan marah. Berikut adab-
adab yang perlu diperhatikan
terkait marah. Pertama, jangan marah, kecuali
karena Allah SWT. Menurut
Syekh Sayyid Nada, marah
karena Allah merupakan
sesuatu yang disukai dan
mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan
perbuatan haram merajalela.
Seorang Muslim yang marah
karena hukum Allah diabaikan
merupakan contoh marah
karena Allah. "Seorang Muslim hendaknya
menjauhi kemarahan karena
urusan dunia yang tak
mendatangkan pahala," tutur
Syekh Sayyid Nada. Rasulullah
SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi
marah karena Allah SWT. Nabi
SAW pun tak pernah dendam,
kecuali karena Allah SWT. Kedua, berlemah lembut dan
tak marah karena urusan
dunia. Syekh Sayyid Nada
mengungkapkan, sesungguhnya
semua kemarahan itu buruk,
kecuali karena Allah SWT. Ia mengingatkan, kemarahan
kerap berujung dengan
pertikaian dan perselisihan
yang dapat menjerumuskan
manusia ke dalam dosa besar
dan bisa pula memutuskan silaturahim. Ketiga, mengingat keagungan
dan kekuasaan Allah SWT.
"Ingatlah kekuasaan,
perlindungan, keagungan, dan
keperkasaan Sang Khalik
ketika sedang marah," ungkap Syekh Sayyid Nada. Menurut
dia, ketika mengingat
kebesaran Allah SWT, maka
kemarahan akan bisa diredam.
Bahkan, mungkin tak jadi
marah sama sekali. Sesungguhnya, papar Syekh
Sayyid Nada, itulah adab paling
bermanfaat yang dapat
menolong seseorang untuk
berlaku santun (sabar). Keempat, menahan dan
meredam amarah jika telah
muncul. Syekh Sayyid Nada
mengungkapkan, Allah SWT
menyukai seseorang yang
dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul.
Allah SWT berfirman, " … dan
orang-orang yang menahan
amarahnya dan memberi maaf
orang lain, dan Allah mencintai
orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran:134). Menurut Ibnu Hajar dalam
Fathul Bahri, ketika kemarahan
tengah me muncak, hendaknya
segera menahan dan
meredamnya untuk tindakan
keji. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang dapat
menahan amarahnya,
sementara ia dapat
meluapkannya, maka Allah akan
memanggilnya di hadapan
segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih
bidadari surga dan
menikahkannya dengan siapa
yang ia kehendaki." (HR
Ahmad). Kelima, berlindung kepada Allah
ketika marah. Nabi SAW
bersabda, "Jika seseorang
yang marah mengucapkan;
'A'uudzu billah (aku berlindung
kepada Allah SWT, niscaya akan reda kemarahannya." (HR Ibu
'Adi dalam al-Kaamil.) Keenam, diam. Rasulullah SAW
bersabda, "Ajarilah,
permudahlah, dan jangan
menyusahkan. Apabila salah
seorang dari kalian marah,
hendaklah ia diam." (HR Ahmad). Terkadang orang yang sedang
marah mengatakan sesuatu
yang dapat merusak
agamanya, menyalakan api
perselisihan dan menambah
kedengkian. Ketujuh, mengubah posisi
ketika marah. Mengubah posisi
ketika marah merupakan
petunjuk dan perintah Nabi
SAW. Nabi SAW bersabda, "Jika
salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka
hendaklah ia duduk. Apabila
marahnya tidak hilang juga,
maka hendaklah ia
berbaring." (HR Ahmad). Kedelapan, berwudhu atau
mandi. Menurut Syekh Sayyid
Nada, marah adalah api setan
yang dapat mengakibatkan
mendidihnya darah dan
terbakarnya urat syaraf. "Maka dari itu, wudhu, mandi
atau semisalnya, apalagi
mengunakan air dingin dapat
menghilangkan amarah serta
gejolak darah," tuturnya,
Kesembilan, memeberi maaf dan bersabar. Orang yang marah
sudah selayaknya memberikan
ampunan kepada orang yang
membuatnya marah. Allah SWT
memuji para hamba-Nya "... dan
jika mereka marah mereka memberi maaf." (QS Asy-
Syuura:37). Sesungguhnya Nabi SAW adalah
orang yang paling lembut,
santun, dan pemaaf kepada
orang yang bersalah. "... dan ia
tak membalas kejahatan
dengan kejahatan, namun ia memaafkan dan memberikan
ampunan... " begitu sifat
Rasulullah SAW yang tertuang
dalam Taurat, kitab yang
diturunkan Allah kepada Nabi
Musa AS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar